Welcome to the Blog of your trusted cultural and tourism ambassador!

Showing posts with label ABNON OPINION. Show all posts
Showing posts with label ABNON OPINION. Show all posts

Thursday, September 16, 2010

JADI NONE ITU ASYIK LHO!

Mengikuti ajang Abang None Jakarta Utara, awalnya tidak pernah sedikitpun terlintas di pikiran saya. Padahal, sudah banyak teman-teman saya di Komunikasi UI yang telah sukses mengikuti ajang ini. Salah satunya, Wimmy, None DKI 2009. Namun, seperti yang orang-orang pikirkan pada umumnya dan saya tentang kontes ini adalah dibutuhkannya brain, beauty, and behavior. Sebagai seorang yang cuek dan sedikit tomboy, saya merasa: “Wussshhh, this is not really me!”

Tapi, hati kecil saya merasa tertantang untuk mengikuti pemilihan ini. Saya tahu, Abnon berbeda dengan beauty pageant semacamnya. Dengan dukungn dari keluarga dan teman-teman terdekat, akhirnya saya beranikan diri untuk mendaftar. Sayapun berpikir, kalo kita gak nyoba, kapan kita mau berkembang dan terus bermain di zona aman kita?

Sedari awal saya memantapkan niat untuk mengikuti Abnon, tujuan utama saya adalah bukan untuk menyabet gelar apapun. Dari Abnon inilah saya belajar banyak hal. Semua benar-benar merangkak dari 0. Saya belajar public speaking dari para public speaker yang mumpuni, memupuk kepercayaan diri, cara berdandan, hingga cara berjalan di catwalk dengan mengenakan kebaya, kain, dan high heels 15cm (ini tantangan terberat selama karantina, hahaha). Semua dilakukan hanya dalam waktu hampir sebulan karantina.

Makna kemenangan bagi saya adalah ketika saya berhasil melawan semua ketidakmampuan saya selama ini. Dari yang tadinya tidak bisa, menjadi BISA. Karantina memberikan sangat sangat banyak perubahan dan pengalaman tak ternilai dalam hidup.

Dari Abnon pula saya mulai mengetahui dan menemukan passion saya. Saya sangat menikmati ngelenong dan nandak (nari Betawi). Seperti kita tahu, lenong dan nandak merupakan sedikit dari kebudayaan Betawi yang harus kita lestarikan. Dengan mengikuti ajang Abnon, secara langsung kita telah ikut berkontribusi dalam melestarikan kebudayaan Betawi. Melestarikan budaya dengan melakukan hal yang kita sukai tentu akan lebih mudah bukan?

Jadi, jangan pernah berpikir yang bisa ikutan Abnon itu cuma orang cantik, pinter dan jago dandan. Semuanya punya kesempatan yang sama, asal punya niat dan percaya sama kemampuan diri sendiri. Yuk, kita sama-sama lestarikan budaya Betawi dengan memulainya dari diri kita sendiri.


Cheers,


Griya Ratri Putri


Yours sincerely,Abang & None Jakarta Utara

Thursday, September 2, 2010

PENGALAMAN YANG LUAR BIASA

Buat saya, terpilih menjadi finalis Abang None Jakarta Utara 2010 merupakan pengalaman yang luar biasa. Bahkan bukan sekedar pengalaman, tapi juga penghargaan yang benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, walaupun saya tidak mendapat gelar juara. Kenapa? Karena ajang Abang None ini sudah berhasil banget mengubah saya menjadi orang yang lebih baik,

Lah, kok bisa ya? Gimana caranya?

Pertama, lewat pemilihan Abang None Jakarta Utara ini, saya benar-benar diajarkan disiplin dan manajemen waktu yang baik.

Waktu yang diberikan sama para senior selama karantina benar-benar dipress sedemikian rupa. Mereka memberikan batas waktu tertentu untuk kita istirahat, makan, siap-siap, make-up, dsb. Dan waktu yang diberikan itu tergolong sebentar, hanya sekitar 15 menit. Pada awalnya, banyak di antara finalis (termasuk saya) yang mungkin mengeluh dengan peraturan ini. Waktunya nggak cukuplah, nggak rasional lah, dan lain sebagainya. Ditambah lagi kritikan dan sanksi-sanksi yang diberikan kalau kita telat semenit saja. Dan saya, yang memang belum terbiasa dengan hal-hal tersebut (terutama make-up cantik dalam hitungan menit) termasuk orang yang paling sering ditegur gara-gara nggak ontime. Jujur, ini merupakan pressure tersendiri buat saya, apalagi lama kelamaan teman-teman saya mulai bisa menyesuaikan diri. Tinggal saya nih, finalis yang paling lelet dan belepotan. Dan akhirnya, pressure itu memacu saya buat terus berlatih dan berlatih agar bisa memanfaatkan waktu secara efisien. Mulai dari mempersiapkan segala kebutuhan karantina dari malam sebelumnya, sampai latihan make-up dan cepol menggunakan timer. Hampir setiap pagi dan di setiap kesempatan saya coba melakukan itu. Dan akhirnya, saya berhasil! Sekarang saya sudah mulai bisa mengatur barang-barang saya sendiri dan bersolek dalam waktu yang relatif cepat namun tetap cantik. Banyak orang yang mulai memuji make-up saya, satu di antaranya ialah pujian dari Non Idzni yang bilang, “Gue seneng deh, Cha lo jadi cantik sekarang. Kalau dulu lo jauh lebih cantik tanpa make-up (you absolutely know what it means), sekarang make-up itu malah buat lo jauh lebih cantik. Pertahanin terus ya, Cha!” Akhirnya…

Kedua, lewat pemiihan Abang None Jakarta Utara ini, saya dibentuk menjadi orang yang jauh lebih percaya diri, khususnya dalam hal menari.

Bagi sebagian orang, menari di depan umum bukanlah hal yang patut dikhawatirkan. Tapi tidak buat saya! Seumur-umur, baru sekali saya menari di depan umum, itu pun pas TK dan saya didaulat karena muridnya memang sudah habis buat menari. Dan saya, di kalangan teman-teman dan orang terdekat terkenal sebagai orang yang sama sekali tidak luwes. Saat mengikuti seleksi Abang None ini saya memang sudah tahu kalau kita harus mempelajari tarian-tarian Betawi. Dan saat itu saya pikir, orang lain aja bisa, masa saya tidak? Tapi ternyata, menari tidaklah semudah itu.. saya benar-benar butuh latihan ekstra keras buat bisa menyesuaikan gerakan-gerakan yang diberikan. Setiap ada gerakan baru, saya selalu merekam gerakan Non Rieka yang memang seorang maestro dalam menari. Malamnya saya coba untuk mengulang gerakan-gerakan yang sudah saya rekam itu. Menari tengah malam di depan kaca kamar sendirian bukan lagi hal yang aneh bagi saya. Target saya bukanlah mampu menari dengan luwes atau bagus, tetapi setidaknya saya tidak melakukan kesalahan saat malam final. Itu saja. Dan thanks God, I did it!! Pengorbanan saya latihan sendirian tengah malam nggak sia-sia karena saya mampu memberikan yang terbaik buat semua orang. It’s proved, karena saya berhasil membuat teman-teman saya terheran-heran dengan komentar, “Kok lo bisa nari sih, Cha?”



Marissa Anugrah

Yours sincerely,Abang & None Jakarta Utara

Tuesday, July 6, 2010

HADIAH KEPADA ABANG NONE JAKARTA UTARA 2009

Berhasilnya sebuah acara tidak lepas dari peran serta orang-orang di belakangnya. Saya sebagai salah satu peserta yang ikut dalam kompetisi ini turut merasakan apa yang menjadi kewajiban dan hak yang sudah seharusnya diberikan setiap orang. Kinerja panitia Abang None Jakarta Utara 2010 sangat baik dengan menghasilkan saya dan teman-teman saya yang lainnya yang aktif, berprestasi dan menjadi seorang pemuda yang lebih baik dari sebelumnya.

Selain E.O yang bertugas untuk mengatur acara semua finalisnya, keberadaan senior-senior Abang None utara sangatlah berperan. Setiap harinya pasti ada saja senior yang berada di lantai 14 Walikota Jakarta Utara. Keberadaan mereka dalam mendidik kami bagaimana harus berbuat dan seperti apa harus berbuat sangatlah penting. Pengajaran-pengajaran seperti salam takzim, salam sembah dan bagaimana memakai pakaian abang dan none menjadi salah satu pengajaran yang mereka berikan.

ABANG NONE JAKARTA UTARA 2009

Setiap hari dengan metode yang mereka berikan, mereka membimbing ABON 2010 dengan sabar. Meskipun beberapa kali mereka harus berbicara dengan nada tinggi karena ulah kami sendiri. Keberadaan Abang None Jakarta Utara 2009 sangat berguna bagi ABON 2010. Disetiap kesempatan mereka tidak segan-segan memberikan masukan-masukan kepada kami supaya dapat lebih baik tidak hanya disaat karantina ataupun malam final, namun dalam setiap kesempatan di hidup kami. Perhatian yang mereka berikan saat ini dapat kami rasakan, bagaimana kami memiliki pribadi yang berbeda sedikitnya selama 3 minggu masa karantina.

Keberadaan senior 2009 ini juga tidak lepas s ebagai seorang "senior" kepada "junior"nya, kami adalah keluarga, kami adalah Ikatan Abang None Jakarta Utara. Disinilah nantinya kami merasakan satu sama lain saling mengisi bagaimana kami bekerja sama kedepannya. Masa-masa karantina yang menyita banyak waktu dan tenaga baik 2009 dan 2010 saat ini menghasilkan situasi dan kondisi yang memperlihatkan bahwa kami adalah sebuah keluarga baru. Saat inilah kami bekerja sama bagaimana teman-teman perwakilan Jakarta Utara ditingkat DKI Jakarta dapat meraih prestasi yang pernah diraih Abang None Jakarta Utara 2009. Selain itu bagaimana kami bekerja sama untuk meraih kesuksesan dalam hal teater yang pernah diadakan dan sukses di masyarakat luas.

Berterima kasih tidak cukup diberikan kepada 2009 dan materi pun tidak mencukupi semua waktu dan tenaga yang diberikan, namun sebuah keluarga baru, 30 orang keluarga baru yang bergabung bersama mereka adalah sebuah hadiah yang cukup baik untuk mereka.

Abang None Jakarta Utara, SENSATIONAL!


Cornelius Pantow

Yours sincerely,Abang & None Jakarta Utara