Welcome to the Blog of your trusted cultural and tourism ambassador!

Tuesday, October 12, 2010

JAKARTA ISLAMIC CENTER


12 destinasi wisata pesisir merupakan program wisata yang ditawarkan oleh Jakarta Utara dalam memajukan sektor wisata. Bang Foke selaku Gubernur DKI Jakarta tidak salah menyebutkan bahwa Jakarta Utara merupakan ETALASE kota Jakarta itu sendiri. Karena Berbeda dengan kota administrasi lainnya, Jakarta utara bisa dibilang menawarkan paket lengkap, dari wisata bahari, kuliner, belanja, olahraga, budaya, hingga wisata religi siap anda nikmati.

pastedGraphic.pdf

Jakarta Islamic Center merupakan salah satu destinasi wisata religi yang ditawarkan oleh pihak Jakarta Utara. Dimana letak bangunan ini berdiri berada di bekas TANAH HITAM yang dulu sangat terkenal dengan nama KERAMAT TUNGGAK, yak siapa yang tak tahu mengenai tempat ini, pusat prostitusi terbesar se-ASIA TENGGARA yang pernah ada. Pada jaman pemerintahan Alm. Ali Sadikin Prostitusi serta Perjudian sempat di perbolehkan di Jakarta, namun di lokalisasikan agar pertumbuhannya tidak menyebar luas.




Perubahan drastis ini memberikan dampak positif bagi citra DKI Jakarta. Sebagai pusat pengkajian dan pengembangan islam jakarta atau yang lebih dikenal dengan Jakarta Islamic Center merupakan organisasi non struktural dibawah Pem Prov DKI Jakarta. Jakarta Islamic Center, yang terletak di Tanjung Priok ini, diharapkan bisa menjadi salah satu simpul pusat peradaban Islam di Indonesia dan ASIA TENGGARA yang menjadi simbol kebangkitan Islam di ASIA dan DUNIA.



Banyak fasilitas yang dapat di nikmati mulai dari bangunan Masjid yang megah, gedung pertemuan yang bisa dijadikan tempat untuk melakukan resepsi pernikahan, perpustakaan yang tidak hanya menyediakan buku-buku Islami saja, mereka juga memfasilitasi perpustakaan tersebut dengan beberapa TV dan DVD Player untuk memutar film yang berisi peradaban serta perkembang ISLAM di Indonesia dan bahkan di dunia.



Jakarta Islamic Center bisa digunakan untuk keperluan pernikahan dimana mereka mempunyai ruang untuk melakukan ijab qobul, hingga resepsi, bahkan mereka bisa melakukan foto pre-wedding disana, tempat yang bagus serta besar dan multi fungsi tersebut membuat banyak para pengantin memesan tempat ini untuk pernikahan mereka.


Tidak hanya untuk pernikahan saja, tempat ini juga bisa dijadikan tempat rapat, pertemuan, untuk acara talk show, kegiatan lomba. Fasilitas yang sangat memenuhi kriteria ini, dmn untuk gedung pertemuan, rapat, talk show ini disediakan proyektor, sound yang sangat berkualitas, air conditioner serta keperluan lainnya telah disediakan oleh pihak pengelola.


Selain tempat yang menarik, lokasi dari JIC ini sangat mudah untuk di cari. Kemudahan akses ini pula membuat salah satu destinasi wisata pesisir ini sering dikunjungi, baik bagi para masyarakat lokal hingga asing. Sudah terpenuhilah target Pemprov DKI Jakarta untuk menjadikan tempat ini sebagai pusat peradaban serta perkembangan islam di Indonesia dan Dunia.




Jadi datanglah dan nikmati keunikan yang di berikan oleh Jakarta Islamic Center, gunakan fasilitas yang menurut anda butuhkan. So come and enjoy North Jakarta, where u can find the greatest tourism object In Jakarta, let’s enjoy NORTH JAKARTA.


Yours sincerely,

Bang Arga dan Non Ika

Abang & None Jakarta Utara

KAMPUNG TUGU

Ibukota DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian Indonesia memiliki peranan yang sangat penting bagi kelangsungan proses pertumbuhan negara kita. Seiring dengan bergeraknya aktivitas yang bermacam-macam, Jakarta seakan-akan memiliki gaya hidup dan citra baru yang melekat yaitu kota metropolitan dengan segenap gaya hidup barunya. Tidakkah kita tahu bahwa kota mungil ini memiliki nilai-nilai sosial budaya yang sangat berharga dan terus menerus coba dilestarikan oleh masyarakatnya sendiri?


Apabila kita bermain ke daerah Jakarta Utara, lebih tepatnya kecamatan Koja, disana terdapat sekumpulan masyarakat yang memiliki nilai-nilai kebudayaan tinggi mengenai Jakarta. Sebuah kampung yang dulu dianggap sebagai daerah terluar dari kota Batavia ini diperuntukkan bagi para Mardijkers oleh pemerintah Hindia Belanda yang telah dibebaskan dari tawanan peran. Mardijkers itu sendiri adalah sebutan bagi para portugis hitam yang dibebaskan dan dikumpulkan dalam satu kampung yaitu kampung tugu. Kampung ini dijadikan sebuah kampung kristen tertua di Indonesia bagian Barat, sebab masyarakat yang ada di daerah ini menganut Kristen protestan dan harus meninggalkan kepercayaan sebelumnya sebagai syarat supaya dapat di bebaskan dari tawanan perang. Untuk sebuah komunitas kristen masyarakat kampung tugu merupakan komunitas Kristen pertama diantara yang lainnya, hal ini menyebabkan komunitas Islam yang ada menyebut mereka sebagai komunitas Serani - yang diambil dari kata Nasrani - sehingga disana dibangunlah sebuah Gereja yang disebut Gereja Tugu sampai saat ini. Budaya Portugis masih sangat kental di kampung Tugu, hal ini dibuktikan dengan masih fasihnya masyrakat Kampung Tugu dalam mempergunakan bahasa Portugis dan keberadaan makam-makam portugis di tempat itu.


Gereja Tugu sebuah gereja pertama yang didirikan diantara komunitas masyarakat Kampung Tugu, gereja ini didirikan sekitar tahun 1678 oleh As Amelchior Leidecker. Hingga saat ini keberadaan Gereja Tugu masih berdiri tegak dengan bentuk-bentuk aslinya, namun telah terjadi beberapa kali renovasi dibeberapa bagian. Gereja Tugu memiliki pondasi sederhana yang dihias dengan kusen-kusen khas Portugis berwarna merah, di gereja ini juga terdapat lonceng Tua yang masih berkumandang hingga saat ini, dan selain itu di pelataran Gereja juga masih dihiasi dengan kuburan-kuburan para Mardjikers.


Populasi masyarakat Kampung Saat ini hanya sepersekian persen dari total masyarakatnya yang masih tinggal disekitar Gereja Tugu. Beberapa masyarakat kampung Tugu saat ini ada yang sudah tinggal di Belanda. Mereka adalah keturunan masyarakat Tugu yang pada tahun 1950 melakukan eksodus ke Hollandia (Jayapura, Papua) sebelum kemudian bermigrasi kembali ke Belanda melalui Suriname. Hingga saat ini masyrakat keturunan Kampung Tugu yang sudah tersebar di Indonesia masih terus menjalankan tradisinya sebagai masyarakat Kampung Tugu, dimanapun mereka berada mereka masih merasakan persaudaraan satu dengan yang lain. Pertautan darah dan kesamaan sejarah serta ikatan kebudayaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pikiran dan perasaan mereka untuk tetap memiliki rasa persaudaraan satu dengan yang lainnya.


Kehidupan masyarakat Tugu di Kampung Tugu saat ini masih berjalan dengan harmonis oleh sentuhan budaya Portugisnya. Bahkan hingga saat ini mereka masih mempergunakan bahasa portugis dalam percakapan sehari-hari, meskipun tidak seluruh masyarakat mengerti bahasa portugis saat ini bahkan sudah diadakan kursus bahasa Portugis oleh beberapa LSM Portugis. Salah satu tradisi Portugis yang masih dijalani oleh masyarakat Tugu adalah Rabo-rabo. Tradisi ini digelar setiap tahun baru, tradisi yang berupa silahturahmi antar keluarga. Satu keluarga datang ke keluarga yang lain, kemudian dua keluarga ini bersama-sama mendatangi keluarga lainnya, Demikian dilakukan seterusnya hingga seluruh keluarga Tugu tersebut berkumpul di salah satu keluarga tertua.


Banyak peninggalan-peninggalan masyarakat Tugu yang masih kokoh berdiri di dalam Kampung Tugu, salah satunya adalah keberadaan ruman-rumah tua. Saat ini keberadaan rumah-rumah tua ini masih dirawat dan dilestarikan, khususnya oleh keluarga besar Tugu, yang telah di revitalisasi oleh pemerinta sekitar tahun 2009 hingga 2010.


Kerontjong Toegoe atau keroncong tugu.

Jacobus Quicko, adalah seorang tokoh yang semasa hidupnya berperan memimpin rombongan Keroncong Tugu. Rombongan ini sudah ada jauh sebelum dibangunnya Gereja Tugu, yang kemudiannya dimainkan di Gereja Tugu sebagai pengiring lagu dalam kebaktian. Sebelumnya, rombongan Keroncong Tugu dimainkan sambil menaiki perahu di sungai ataupun mengadakan pertunjukan keliling dari satu rumah ke rumah yang lain pada pesta Natal. Selain untuk memeriahkan acara pertemuan antar keluarga dan pesta-pesta, Keroncong Tugu ini biasanya digunakan untuk upacara pesta panen. Banyak hal yang masih dipertahankan dalam tradisi Keroncong Tugu, yaitu alat musik, perbendaharaan lagu (repertoar) dan kostum pemainnya. Alat musik yang digunakan saat ini masih seperti yang digunakan tiga abad yang lalu, yaitu keroncong, biola, ukulele, banyo, gitar, rebana, kempul dan cello.

Inilah saatnya kita sebagai warga masyarakat Kota Jakarta ataupun Indonesia untuk mengetahui lebih banyak apa yang dimiliki oleh bangsa kita sendiri. Kita patut mengetahui apa nilai-nilai tradisi budaya yang kita miliki sehingga pada satu titik kita akan mengatakan dengan sendirinya bahwa kita "BANGGA MENJADI ORANG INDONESIA". Ketahui dan kunjungilah Kampung Tugu sebagai salah satu 12 Jalur Destinasi Wisata Pesisir Jakarta Utara dengan segenap nilai-nilai sejarah, budaya, sosial dan kesenian yang dimilikinya sebagai salah satu kontribusi kita sebagai masyarakat terhadap pariwisata di Indonesia khususnya Jakarta.


Yours sincerely

Bang Cornel, Bang Sonny & Non Chyntia
Abang & None Jakarta Utara